Langsung ke konten utama

Wawancara dengan penulis buku "Naikkan suhu badan untuk jadi sehat"

Berapa suhu tubuh anda?

Tahukah anda bahwa jika suhu tubuh turun 1 derajat, daya tahan (imunitas) tubuh turun 30%?

Jika daya tahan tubuh menurun, bukan hanya anda akan mudah terkena flu, tapi juga terkena hal-hal berikut ini: stress, kegagalan diet, depresi, kanker... Anda perlu membaca buku  "Naikkan suhu badan untuk jadi sehat" (Taion wo ageru to kenko ni naru), karangan Masashi Saito, M.D. ini.

Berikut ini adalah wawancara dengan penulis buku ini.

Pewawancara (Q): Seperti tertulis di buku ini, saya sebenarnya bersuhu tubuh rendah. Akhir-akhir ini berbagai bagian badan saya rasanya tidak fit. Setelah saya baca buku anda, saya menjadi mengerti, dan memulai memperbaiki pola hidup saya. Tadinya saya pikir hanya saya saja yang bersuhu tubuh rendah, ternyata memang banyak orang yang sekarang bersuhu tubuh rendah ya?

Saito Masashi (A): Beberapa tahun belakangan ini, seakan-akan mencerminkan kondisi masyarakat yang stress, saya perhatikan banyak sekali orang bersuhu tubuh rendah. Suhu tubuh rendah didefinisikan sebagai suhu tubuh dibawah 36.2 derajat celcius. Suhu tubuh normal manusia sebenarnya adalah 36.8 +/- 0.3-0.4 derajat celcius. Dengan demikian suhu tubuh seharusnya perlu diatas 36.5 derajat, namun jumlah orang bersuhu tubuh dibawah 36.2 derajat sekarang meningkat. Bahkan banyak orang bersuhu tubuh 35-an derajat. Selama 3 tahun saya praktek di Tameike-sanno Clinic (Tokyo, Jepang), 95% dari hampir 12000 pasien yang saya periksa setiap tahun adalah pasien bersuhu tubuh rendah.

Tentu saja, orang yang datang ke klinik tersebut adalah orang yang menderita berbagai penyakit seperti kanker, tumor otak, cerebral vascular disorder (CVD) dan lain sebagainya, jadi sampel saya adalah sampel dari lingkungan yang khusus. Namun, dari antara mereka, yang suhu badannya termasuk paling tinggi pun hanya sekitar 36.2 derajat. Ini menunjukkan bahwa banyak orang sakit yang bersuhu tubuh rendah. Bahkan orang yang tidak sakitpun rata-rata suhu badannya menurun.

Menurut data sekitar 50 tahun lalu yaitu tahun 1950an, dibandingkan tahun 2009, suhu badan orang Jepang tahun 1950an adalah 36.6 hingga 36.9 derajat. Sekarang, suhu badan orang Jepang rata-rata sekitar 36.2 derajat.

Mengapa sampai terjadi seperti ini? Ada beberapa alasan, tetapi alasan utama mengapa suhu badan menurun adalah menurunnya dengan tajam jumlah gerak badan. Tahun 1950an adalah masa setelah perang dunia, seperti yang anda bisa bayangkan, misalnya wanita saja saat itu biasanya bekerja di ladang dan di tempat-tempat lain sambil menggendong anak, jadi jumlah gerak badan dalam sehari sangat tinggi. Dengan demikian saat itu tidak ada masalah wanita kekurangan otot. Tentu saja dulu juga hidup itu berat karena kurangnya bahan pangan dan lainnya, tetapi beratnya hidup jaman itu dengan jaman sekarang berbeda. Otot adalah organ tubuh penghasil panas terbesar sehingga jika otot berkurang, suhu tubuh menurun. Menurunnya jumlah gerak badan dengan tajam berakibat menurunnya jumlah otot, dan ini berakibat menurunnya suhu tubuh.

Alasan kedua adalah alat pendingin udara (airconditioner). Jaman dulu tidak ada pendingin udara, tapi sekarang 24 jam sehari udara di ruangan diatur. Banyak orang bahkan saat tidurpun menghidupkan pendingin udara, sehingga suhu selalu terjaga dan badan tidak berkeringat. Pusat pengatur suhu badan berada di otak, tetapi oleh karena berbagai jenis stress, pusat pengatur suhu terganggu fungsinya. Berkeringat adalah cara tubuh untuk mengatur suhu badan, tetapi pusat pengatur keringat jadi tidak berfungsi. Inilah yang disebut penyebab sentral. Stress secara langsung mengganggu standar operasi pusat pengatur suhu badan di otak, dan salah satu penyebabnya adalah alat pendingin udara. Ditambah dengan kurangnya gerak badan, hal ini terjadi akibat manusia menjadi hidup di lingkungan dimana suhu tetap.

Alasan ketiga, seperti yang saya tulisan di buku, adalah stress. Jaman dulu juga ada stress, tetapi berbeda karakteristiknya. Khususnya, 10-20 tahun terakhir ini karakteristiknya jelas berbeda dengan stress akibat kurang makanan seperti saat sebelum  dan sesudah perang dunia kedua. Dibandingkan dengan stress untuk bertahan hidup di jaman itu, stress sekarang disebabkan oleh banyak faktor. Ada stress karena masalah ekonomi, stress karena hubungan intrapersonal di tempat kerja, stress karena masalah keluarga. Selain stress yang biasanya terbayang ini, stress yang menurut saya paling penting adalah obat, yaitu obat yang biasa kita minum/makan. Dalam bahasa Jepang obat disebut “kusuri”, yang jika dibaca terbalik menjadi “risuku”, yang artinya resiko (risk). Ini bukan sekedar permainan kata, sebab pada dasarnya semua obat memiliki resiko. Jepang kadang disebut negara adidaya obat saking banyaknya orang Jepang yang memakai obat. Tetapi, memakan/meminum obat memberi stress yang sangat besar terhadap tubuh.

Q: Jadi obat yang kita rasa baik bagi badan lalu makan/minum, sebenarnya menjadi beban (stress)  bagi badan?

A: Misalnya, jaman sekarang saat susah tidur ada yang memakai obat tidur. Lalu, orang yang pergi ke mental clinic karena gejala depresi ringan biasanya diberi obat anti depresi. Dari dua contoh ini saja bisa dipastikan akan muncul efek sampingan, yang bisa dibagi tiga jenis. Efek sampingan pertama adalah anticholinergic effect. Beberapa gejala utama adalah terganggunya pengeluaran air kencing, mata dan mulut mengering, detak jantung menjadi cepat. Ini adalah gejala-gejala yang terjadi saat sympathetic nerve dalam kondisi tegang.

Efek sampingan kedua adalah antiadrenergic effect, dimana tekanan darah turun, dan ini adalah salah satu contoh utama dari gejala suhu tubuh rendah (hypothermia). Susah bangun di pagi hari, rasa pusing, dan leher kaku, atau bisa disebut gejala-gejala malas, seakan-akan “mesin” tidak bisa hidup.

Efek sampingan ketiga adalah antihistaminic effect, yaitu rasa mengantuk dan lemas.

Inilah efek-efek sampingan yang timbul, karena memang obat-obat tersebut adalah obat yang menghasilkan efek tersebut. Orang yang merasa stress lalu minum obat-obatan seperti ini tubuhnya akan menerima stress akibat efek sampingan dari obat anti stress tersebut. Ini yang saya sebut “spiral negatif obat”. Selain ini, ada banyak jenis obat lainnya yang kerap digunakan masyarakat sekarang, sehingga resiko (risuku) akibat obat (kusuri) menjadi faktor yang sangat penting.

A: Jika kekebalan tubuh meningkat, maka minum obat pun tidak perlu ya.

(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pada dasarnya semua obat adalah racun

Mengenai obat menurut Hiromi Shinya di buku " The Miracle of Enzyme " (2005): Orang-orang Amerika mengkonsumsi obat dengan terlalu enteng. Walaupun kondisi-kondisi tertentu memang perlu untuk diobati, saya percaya bahwa semua obat, baik yang memakai resep maupun tidak, pada dasarnya berbahaya bagi tubuh dalam jangka panjang. Sebagian orang percaya bahwa obat-obatan herbal tidak memiliki efek samping dan hanya bermanfaat, tetapi itu juga salah. Baik produk bahan kimia maupun obat herbal tidak mengubah kenyataan bahwa obat-obatan racun (dalam edisi Indonesia diterjemahkan “asing”) bagi tubuh. Terakhi kali saya jatuh sakit adalah pada usia 19 tahun, ketika terserang flu. Dengan demikian, saya hampir tidak pernah minum obat seumur hidup saya. … Oleh karena selama beberapa dekade tidak pernah minum obat, tidak mengkonsumsi alkohol maupun tembakau, dan hanya makan makanan yang tidak mengandung bahan kimia pertanian maupun bahan tambahan makanan, saya akan mengalami re

Kosongkan lambung sebelum tidur

Mengenai makan larut malam menurut Hiromi Shinya di buku " The Miracle of Enzyme " (2005): Tenggorokan manusia dirancang sedemikian rupa agar tidak ada yang dapat masuk ke dalamnya selain udara. Namun, jika makanan masih ada di dalam lambung, sebelum tidur, isi lambung tersebut akan meluap naik dari lambung menuju kerongkongan saat anda merebahkan diri. Saat hal ini terjadi, tubuh menyempitkan saluran pernapasannya dan menghentikan pernapasan anda untuk mencegah isi lambung memasuki tenggorokan. Fakta bahwa sebagian besar orang yang menderita sleep apnea juga menderita obesitas sejalan dengan hipotesis saya. Jika anda makan tepat sebelum tidur pada malam hari, insulin dalam jumlah besar akan disekresikan. Namun, jika anda mengonsumsi karbohidrat atau protein, insulin mengubah semuanya menjadi lemak. Oleh karena itu, berat badan jauh lebih mudah meningkat jika anda makan larut malam walaupun tidak menyantap apapun yang “menggemukkan.” Dengan kata lain, anda tidak

Makanan lunak tidak baik

Mengenai bubur menurut Hiromi Shinya di buku " The Miracle of Enzyme " (2005): Jika anda dirawat di rumah sakit di Jepang, apapun kondisi anda, rumah sakit akan segera memberi anda makan bubur nasi. Rumah sakit percaya bahwa mereka berlaku penuh perhatian terhadap pasien-pasien mereka, terutama kepada mereka yang baru saja menjalani pembedahan internal, dengan mengatakan “Mari kita mulai makanan anda dengan bubur beras agar kita tidak memberi beban terlalu banyak pada lambung dan usus anda” Akan tetapi, ini adalah sebuah kesalahan besar. Saya memberi pasien-pasien saya makanan biasa sejak awal, bahkan jika mereka menjalani operasi lambung. Jika mengerti bagaimana enzim bekerja, anda akan segera mengerti mengapa makanan biasa lebih baik daripada bubur. Makan biasa lebih baik karena anda harus mengunyahnya dengan baik. Mengunyah menstimulasi sekresi air liur. Enzim-enzim pencernaan yang terdapat dalam air liur, jika tercampur dengan makanan selama dikunyah, meni